Tentang Adat, Kebudayaan dan Peradaban

Berbicara tentang peradaban, maka tidak akan terlepas dari adat dan kebudayaan. 3 unsur ini seakan tidak terpisahkan karena kompleksitas dan peranannya masing – masing. Untuk lebih jelasnya yuk kita baca secara seksama artikel ini! Adat Adat merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu lingkup wialayah / daerah. Jika adat ini tidak dijalankan maka akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. Hukum adat di Indonesia Dari 19 daerah lingkungan hukum (rechtskring) di Indonesia, sistem hukum adat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: 1. Hukum Adat mengenai tata negara 2. Hukum Adat mengenai warga (hukum pertalian sanak, hukum tanah, hukum perhutangan). 3. Hukum Adat mengenai delik (hukum pidana). Istilah Hukum Adat pertama kali diperkenalkan secara ilmiah oleh Prof. Dr. C Snouck Hurgronje, Kemudian pada tahun 1893, Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje dalam bukunya yang berjudul “De Atjehers” menyebutkan istilah hukum adat sebagai “adat recht” (bahasa Belanda) yaitu untuk memberi nama pada satu sistem pengendalian sosial (social control) yang hidup dalam Masyarakat Indonesia. Istilah ini kemudian dikembangkan secara ilmiah oleh Cornelis van Vollenhoven yang dikenal sebagai pakar Hukum Adat di Hindia Belanda (sebelum menjadi Indonesia). Pendapat lain terkait bentuk dari hukum adat, selain hukum tidak tertulis, ada juga hukum tertulis. Hukum tertulis ini secara lebih detil terdiri dari hukum ada yang tercatat (beschreven), seperti yang dituliskan oleh para penulis sarjana hukum yang cukup terkenal di Indonesia, dan hukum adat yang didokumentasikan (gedocumenteerch) seperti dokumentasi awig-awig di Bali. Kebudayaan Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain  Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Peradaban Peradaban memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”. Dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman. Berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial. Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan /kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya. Pada pemahaman lama istilah “peradaban” dapat digunakan sebagai normatif baik dalam konteks sosial. Konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya Keunggulan dari kelompok tertentu.” Dalam artian yang sama, peradaban adalah “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa”.  Masyarakat yang mempraktikkan pertanian secara intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya. (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK. Dinamisme Peradaban Dalam setiap peradaban dipastikan melahirkan berbagai penemuan (pencapaian) dan teknologi yang jauh lebih maju dari peradaban sebelumnya. Karena peradaban merupakan akumulasi energi, konsepsi dan upaya manusia sebagai khalifah dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di alam semesta. Itulah dinamika peradaban yang akan terus menerus terulang hingga ribuan tahun ke depan. Begitupun kita manusia yang harus mampu menyesuaikan dengan berbagai dinamika kehidupan. Agar hidup semakin berkembang dan lebih baik di masa

Menguak Mitos Larangan Perkawinan Sunda Jawa

perkawinan_jawa_sunda

Larangan perkawinan Sunda Jawa telah lama menjadi buah bibir di kalangan masyarakat yang berada di Pulau Jawa. Bahkan ada yang mempercayai sepenuhnya ada juga yang sebaliknya. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika perkawinan ini dilakukan, maka pasangan tersebut tidak akan harmonis, bahagia dan sejahtera. Atau selalu saja ada permasalahan pelik di dalamnya. Untuk mengetahui latar belakang mitos ini, yuk simak penuturan sejarah singkat nya berikut ini!   Asal Mula Mitos Larangan Perkawinan Sunda Jawa Menurut cerita asal mula mitos larangan perkawinan Sunda Jawa ini berawal dari perang Bubat yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Perang yang melibatkan 2 kerajaan besar di tanah Jawa ini terjadi di alun – alun Bubat Mojokerto Jawa Timur.   Latar Belakang Terjadinya Perang Bubat Perang Bubat dimulai dari rencana perkawinan politik antara Raja Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) dari Majapahit dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri raja Sunda, Prabu Linggabuana. Jauh sebelum terjadinya perang Bubat, tidak ada larangan perkawinan Sunda Jawa ini. Hayam Wuruk, memutuskan ini (mungkin karena alasan politik) untuk mengambil putri Citra Rashmi (juga dikenal sebagai Pitaloka) sebagai istrinya. Dia adalah putri Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dari Kerajaan Sunda yang mempunyai paras dengan kecantikan luar biasa. Majapahit mengutus Patih Madhu untuk meminangnya. Sang raja Sunda menerima pinangan itu dan ingin menjadikan kesempatan ini untuk membina aliansi dengan Majapahit. Dia pun memutuskan menemani putrinya ke Majapahit untuk prosesi pernikahannya.   Rombongan Keluarga Kerajaan Sunda Berangkat Menuju Majapahit D tahun 1357 Prabu Linggabuana dan keluarga kerajaan tiba di Majapahit setelah berlayar melintasi Laut Jawa . Keluarga kerajaan menaiki kapal jung yang cukup besar dan mendarat di pelabuhan Hujung Galuh, kemudian berlayar ke daratan melalui Sungai Brantas dan tiba di pelabuhan sungai Canggu. Rombongan ini kemudian berkemah di alun-alun Bubat di bagian utara Trowulan, ibu kota Majapahit, dan menunggu upacara perkawinan Sunda Jawa ini.   Siasat Buruk Gajah Mada   Gajah Mada, perdana menteri Majapahit melihat keadaan tersebut sebagai kesempatan untuk menuntut penyerahan Sunda ke kerajaan Majapahit. Sang putri harus ditampilkan sebagai tanda penyerahannya dan diperlakukan sebagai selir raja Majapahit belaka. Raja Sunda marah dan tak terima serta merasa terhina oleh permintaan Gajah Mada.  Dan pada saat itu juga memutuskan untuk pulang serta membatalkan perkawinan kerajaan Sunda dan Jawa Majapahit. Akan tetapi, Majapahit menuntut tangan putri Sunda, dan mengepung perkemahan mereka. Namun Ada versi lain yang menyebut bahwa Gadjah Mada semula setuju dengan pernikahan tersebut sebagai upaya mempersatukan Majapahit dan Sunda. Namun Ayahanda Hayam Wuruk yaitu Kertawardhana berkebaratan dengan pernikahan tersebut. Terlebih Hayam Wuruk sudah dijodohkan dengan Indudewi yang berasal dari Daha Kediri, sehingga Kertawardhana memerintahkan Gajah Mada untuk membatalkan pernikahan tersebut. Baca Juga : Misteri Situs Gunung Padang Cianjur   Terjadinya Pertempuran Bubat Akibatnya, terjadi pertempuran di alun-alun Bubat (sekarang kira-kira di dusun Bubat, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto)  antara tentara Majapahit dan keluarga kerajaan Sunda. Pertempuran ini tidak seimbang karena rombongan Sunda sebagian besar terdiri dari keluarga kerajaan, pejabat negara, dan bangsawan, disertai oleh pelayan dan pengawal kerajaan saja. Jumlah rombongan Sunda diperkirakan kurang dari seratus orang. Di sisi lain, penjaga bersenjata yang ditempatkan di ibu kota Majapahit di bawah komando Gajah Mada diperkirakan berjumlah beberapa ribu pasukan bersenjata dan terlatih. Rombongan Sunda dikepung di tengah alun-alun Bubat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa orang Sunda berhasil mempertahankan alun-alun dan menyerang balik pengepungan Majapahit beberapa kali. Namun, seiring berjalannya hari, orang Sunda kelelahan dan kewalahan. Meski menghadapi kematian tertentu, orang Sunda menunjukkan keberanian dan kesatria yang luar biasa satu per satu, semuanya jatuh.   Kematian Terhormat Keluarga Kerajaan Sunda Meski tidak seimbang, namun Raja Sunda berjuang mempertahankan kehormatan kerajaan sampai titik darah penghabisan. Sang raja gugur ketika duel dengan seorang jenderal Majapahit. Hampir semua keluarga kerajaan Sunda di bantai dalam tragedi itu. Ada beberapa sumber mengatakan bahwa putri Dyah Pitaloka bersama dengan semua wanita Sunda yang tersisa saat itu mengambil nyawanya sendiri untuk membela kehormatan dan martabat negaranya. Ritual bunuh diri oleh para wanita lainnya setelah kekalahan kaum laki-laki mereka. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka. Menurut tradisi, wafatnya Dyah Pitaloka ditangisi oleh Hayam Wuruk dan seluruh penduduk kerajaan Sunda yang telah kehilangan sebagian besar anggota keluarga kerajaannya. Perbuatan Pitaloka dan keberanian ayahnya dipuja sebagai tindakan mulia kehormatan, keberanian dan martabat dalam tradisi Sunda. Ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dipuja oleh orang Sunda sebagai Prabu Wangi (Sunda: raja dengan aroma yang menyenangkan) karena tindakan heroiknya untuk mempertahankan kehormatannya melawan Majapahit. Keturunannya, yang kemudian menjadi raja Sunda, disebut Siliwangi (Sunda: penerus Wangi).   Akhir Karir Gajah Mada Gajah Mada menghadapi tentangan, ketidakpercayaan dan ejekan di istana Majapahit karena tindakannya yang ceroboh, yang tidak sesuai selera para bangsawan Majapahit, telah mempermalukan martabat Majapahit, dan merusak pengaruh raja Hayam Wuruk. Peristiwa malang ini juga menandai berakhirnya karir Gajah Mada, karena tidak lama setelah peristiwa ini, raja memaksa Gajah Mada untuk pensiun dini melalui pemberian perdana menteri tanah di Madakaripura (hari ini Probolinggo), sehingga diasingkan jauh dari urusan istana ibu kota.   Pemutusan Hubungan Antar Kerajaan Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan dan mengakibatkan permusuhan selama bertahun-tahun yang akan datang, situasi tidak pernah kembali normal.[7] Pangeran Niskalawastu Kancana merupakan satu – satunya pewaris kerajaan Sunda yang masih hidup.Karena Ketika keluarganya berangkat ke Majapahit, dia tidak ikut serta karena usia nya pada saat itu masih kecil. Setelah tumbuhu besar, Niskala Wastukancana menjadi seorang raja yang sangat bijaksana.  Kebijakannya setelah naik takhta antara lain memutuskan hubungan diplomatik Sunda dengan Majapahit, memberlakukan kebijakan isolasi terhadap Majapahit, termasuk memberlakukan undang-undang “Larangan Estri ti Luaran”, yang melarang orang Sunda menikah Jawa. Reaksi-reaksi ini mencerminkan kekecewaan dan kemarahan Sunda terhadap Majapahit, dan kemudian berkontribusi pada permusuhan Sunda-Jawa, yang mungkin masih berlangsung hingga saat ini.   Kebenaran Sejarah Yang Sengaja Ditutup – tutupi Kejadian perang Bubat ini seperti momok bagi pihak Majapahit. Maka dari itu tidak ada referensi pasti yang ditulis pihak Majapahit mengenai peristiwa ini. Walaupun seperti kita ketahui bahwa kitab Nagarakertagama ditulis setelah terjadinya perang ini. Akan tetapi tidak ada satupun tulisan yang menyebutkan tentang perang ini. Disisi lain, bagi masyarakat Sunda kejadian perang Bubat ini sangat penting dan bermakna sekali. Karena seorang putri kerajaan yang memilih bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya dan kerajaannya adalah Tindakan yang sangat terhormat. Maka tak heran banyak tembang – tembang sunda atau tarian yang mengangkat tema ini.   Larangan Perkawinan Sunda Jawa di Era

Orang Sunda Wajib Tahu, Sejarah Nama Jawa Barat

Sebelum tahun 1925, sejarah nama Jawa Barat dikenal dengan sebutan Tatar Sunda atau orang Belanda menyebutna Sundalanden. Wilayah Tatar Sunda meliputi (Jawa Barat sekarang, Banten dan Jakarta). Bahkan di jaman kerajaan, wilayah Sunda mencakup Brebes, Cilacap dan bahkan hingga Lampung. Campur Tangan Hindia Belanda Dalam Pemakaian Nama Jawa Barat Terbukti pada  tahun 1880, seorang Belanda ahli arsip dan kepala arsip negara di Batavia menerbitkan sebuah karangan buku dengan judul  Geschieden Van de Sundalanden yang disusun oleh Mr. J.A Van Der Chijs. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda oleh Raden Kartawinata dan diteritkan pada tahun 1880. Buku tersebut menjelaskan perkembangan wilayah Sunda sejak zaman kuno hingga tahun 1879. Kemudian pada tahun 1924 pemerintah Hindia – Belanda mulai merencanakan untuk membentuk provinsi Jawa Barat (West Java Province). Lalu berdasarkan (Staatsblad 1925/378 Agustus 1925) Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia – Belanda. Dimaksudkan untuk melaksanakan janji Pemerintah Kerajaan Belanda yang akan memberikan hak otonomi kepada pemerintah Hindia Belanda. Unsur Sentimentil Antar Etnis Konon pemberian nama Jawa  Barat merupakan usulan salah satu anggota Volksraad. Seorang pribumi yang juga menjabat sebagai ketua Volksraad (semacam dewan perwakilan rakyat). Ada yang mengatakan beberapa anggotanya. Tapi sampai kini tidak diketahui siapa orang tersebut. Seperti sengaja disembunyikan. Karena memang usulan tersebut secara sembuni – sembunyi langsung menghadap Gubernur Jenderal Hindia – Belanda agar disahkan. Ketika itu, rakyat Sunda memprotes kebijakan  pemerintah Hindia – Belanda ang menamakan wilayah tatar Sunda sebagai West Java Province.Tidak ketinggalan organisasi Paguyuban Pasundan pun turut mengecam pemrintahan Hindia Belanda. Karena terlalu seenaknya memberi nama suatu wilayah tanpa mempertimbangkan aspek suatu budaya di wilayah tersebut. Sebagai respon tersebut, pemerintah Hindia Belanda memberikan keleluasaan bagi masyarakat Sunda untuk menyebut provinsi Sunda. Pemerintah Hindia Belanda juga menyematkan hal  tersebut di Undang – Undang mereka pada saat itu.  Dan akhirnya nama Sunda dikembalikan dan menjadi  Provinsi Sunda. Baca Juga : Asal Muasal Suku Baduy   Sejarah Nama Jawa Barat di Masa Kemerdekaan Di masa pasca kemerdekaan Provinsi Jawa Barat kembali dibentuk berdasarkan UU no. 1 tahun 1945 tentang  pembentukan Provinsi Jawa Barat. Hasil dari sidang PPKI kedua. Bahkan Sukarno secara terang – terangan menunjuk dan mengangkat R Sutarjo Kartohadikusumo sebagai  gubernur Jawa Barat pertama. Padahal R. Sutarjo bukanlah putera asli Sunda. Pada saat itu rakyat Pasundan sangat marah dan kecewa atas keputusan pemerintah Indonesia yang baru dibentuk di sidang PPKI kedua. Bukan nya beres, justru rakyat Pasundan banyak melakukan protes hampir di setiap daerah. Bahkan terang – terangan tidak mau dipimpin oleh seorang gubernur yang bukan asli Sunda. Maka dari itu R. Sutarjo  tidak pernah sekalipun mau berkantor di Bandung karena khawatir aksi protes berkelanjutan dari rakyat Sunda pada saat itu. Lahirnya Partai Rakyat Pasundan Hingga tahun silih berganti, akhirnya pada tahun 1946 saat wakil  gubernur jenderal Van Mook melakukan tahap – tahap awal pembentukan Indonesia Serikat, lalu Suria Kerta legawa mendirikan Partai Rakyat Pasundan di Bogor. Kertalegawa berusaha mewujudkan negara Pasundan yang merdeka dari Indonesia. Tahun 1947 Kertalegawa menjadi lebih nekat melihat sikap Van Mook. Pada sebuah pertemuan 4 Mei 1947 di Bandung yang dihadiri oleh 50 orang, ie memproklamasikan Negara Pasundan. Namun usaha Kertalegawa menjadi terhalangi lantaran ada negara Pasundan tandingan versi Wiranatakusumah dari golongan rwpubliken yang cukup menggema. Karena melibatkan tokoh – tokoh Sunda juga dalam konferensi. Dan akhirnya negara Pasundan versi Wiranatakusumah pun resmi dibentuk padda  tahun 1948 dan Jawa Barat kembali berganti menjadi Negara Pasundan. Maka dari situ Raden Aria Wiranatakusumah resmi diangkat menjadi Presiden Negara Pasundan. Namun Negara Pasundan hanya bertahan selama 3 tahun saja. Sebab tujuan Wiranatakusumah ikut membentuk Negara Pasundan tandingan hanyalah politik semata agar tanah Pasundan tidak lepas dari Indonesia sepenuhnya. Maka dari itu pada tahun 1950,  RIS bubar dan negara Pasundan pun turut serta dibubarkan pada 8 Maret 1950. Kemudian wilayah Pasundan kembali ke Republik dan berganti nama lagi menjadi Provinsi Jawa Barat. Pemberontakan APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) Dikarenakan bubarnya negara Negara Pasundan dan dikembalikannya lagi nama Sunda jadi Jawa Barat. Sehingga banyak dari kalangan Sunda yang pro negara Pasundan, kembali kesal dan dendam. Dan peristiwa ini bertepatan dengan kemunculan APRA yang dipimpin Raymond Westerling. Karena Westerling tidak mau dibubarkannya negara bagian bentukan Belanda di Republik Indonesia Serikat (RIS) yang bergabung kembali ke Republik Indonesia. Politik Adu Domba Begitu kompleks permasalahan di negeri ini. Berawal dari perubahan nama hingga pembentukan provinsi dan negara menjadi sebuah konflik sentimen antar etnis. Ada banyak kepentingan politik di dalamnya serta perang ideologi dan lainnya. Belum lagi pada saat itu sedang dikuasai oleh bangsa asing yaitu Belanda. Bahkan ditahun 1948 sesungguhnya sedang terjadi pemberontakan DI/TII akibat perjanjian Renville.  Pemerintah RI menandatangani perjanjian tersebut yang memberikan wilayah tatar Sunda / Jawa Barat ke tangan Belanda. Hal  ini dianggap penghinaan bagi orang  Sunda. Maka dari itu muncullah pemberontakan DI/TII. Itulah uraian singkat tentang sejarah nama Jawa Barat yang dikutip dari akun Pajajaran Anyar & berbagai sumber lain. Tulisan ini dibuat bukan untuk memancing unsur sentimen antar etnis. Namun sebagai landasan kita bersama dalam bergerak untuk kemajuan NKRI, jangan sampai ditunggangi pihak – pihak lain yang bisa merugikan bangsa kita sendiri. Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di tanah Sunda saja, beberapa wilayah lain di Indonesia pun demikian. Karena politik adu domba masih sangat ampuh untuk dijadikan alat penguasaan suatu wilayah.

Misteri Situs Gunung Padang

situs-gunung-padang-cianjur

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Gunung Padang merupakan sebuah bukit yang terbuat dari susunan batu – batu besar persegi panjang yang ditata sedemikian rupa hingga mencapai ketinggian 885mdpl. Para ahli menyebutnya dengan istilah komplek punden berundak.   Pertama Kali Mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang Saya mulai cerita ini ketika saya masih duduk di kelas 4 SD sekitar tahun 94 di kota kecil Cianjur. Kala itu wali kelas saya mengadakan acara rekreasi dalam rangka kenaikan kelas. Wali kelas saya ngajak ke Situs Gunung Padang yang pada waktu itu belum seterkenal sekarang. Saya sangat antusias sekali untuk mengikuti kegiatan tersebut. Karena mendengar cerita dari Wali kelas saya tentang keindahan alam dan keunikan situs tersebut. Lokasi Situs Gunung Padang Situs ini berada di desa Karyamukti Kec. Campaka Kab. Cianjur. Jaraknya sekitar 1,5 – 2 jam perjalanan dari kota Cianjur. Untuk menuju kesana kita harus mengambil arah WarungKondang terlebih dahulu, kemudian nanti ada jalan khusus menuju ke lokasi situs.   Keindahan Alam Di Sekitar Lokasi Kontur alam pedesaan dan pegunungan yang masih asri sangat terasa sekali. Dan juga perkebunan teh yang sangat luas masih mendominasi wilayah alam sekitar lokasi situs. Ada Apa saja di lokasi situs ? Jika dihitung dari pertama kali mengunjungi tahun 94 sampai tahun 2022 ini, mungkin ada sekitar 10 kali saya mengunjungi lokasi ini. Karena ketika pada waktu situs ini booming di media beberapa waktu lalu, banyak temen – temen saya dari luar kota yg penasaran ingin mengunjungi situs ini. Dan saya selalu mendampingi mereka kesana. Sekarang, kondisi situs nya sendiri sudah sangat banyak berubah. Mungkin dulu belum benar – benar terawat seperti sekarang ini. Saat ini ketika tiba saja saya sangat tercengang melihat lokasi parkir dan loket masuk nya yang sudah sangat tertata dengan rapih. Titian anak tangga untuk menuju Puncak nya pun sudah sangat rapi dan nyaman untuk dilalui. Di puncak situs nya sangat bersih dan terjaga dengan baik. Sejarah Gunung Padang Hingga kini masih banyak para ahli yang masih melakukan riset mengenai kapan situs ini dibangun dan untuk apa tujuannya. Merangkum dari berbagai tulisan / hipotesa yg berkembang saat ini ada yg menyebutkan bahwa situs ini dibangun 400 – 700 tahun sebelum masehi. Ada juga yg berpendapat bahwa situs ini dibangun sekitar 5.000 – 10.000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada yg menyebut situs ini lebih tua dari Piramida Giza yang ada di Mesir. Baca Juga : Batu Baginda Tempat Healing Viral di Belitung Siapa yang membangun nya dan untuk apa tujuannya? Dari berbagai hasil penelitian atau hipotesa yang berkembang hingga saat ini, belum ada satu pun yang bisa menyimpulkan siapa dan zaman apa sesungguhnya situs ini dibangun. Karena sejak pertama kali ditemukan sekitar tahun 1914 hingga saat ini telah beberapa kali rangkaian penelitian dilakukan di situs Gunung Padang ini. Hasilnya masih tetap belum memecahkan misteri siapa yang membangun situs megalitikum ini. Namun jika dilihat dari beberapa bahan konstruksi dan desain yang dipakai, banyak kemiripan dengan situs suku Inca yg ada di negara Peru. Namun hal tersebut belum bisa dijadikan acuan keterkaitan dengan situs ini. Adapun tujuan dibangun nya situs ini para ahli banyak menyebutkan untuk keperluan pertemuan ritual / pemujaan terhadap alam. Cara Menuju Situs Gunung Padang Ada bebagai pilihan cara untuk mengunjungi situs megalitikum ini. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi, backpacker atau ikut program open trip. Nah buat yang lagi nyari paket open trip atau private trip Gunung Padang kamu bisa hubungi nomor WhatsApp berikut ini 0856 9328 8070 dijamin pelayanan mereka sangat memuaskan sekali. Itulah cerita singkat mengenai situs megalitikum prasejarah terbesar di Asia tenggara Ini. Semoga bisa menambah wawasan pengetahuan kamu ya.