Damar Pilau Indonesia

Menguak Mitos Larangan Perkawinan Sunda Jawa

perkawinan_jawa_sunda

Larangan perkawinan Sunda Jawa telah lama menjadi buah bibir di kalangan masyarakat yang berada di Pulau Jawa. Bahkan ada yang mempercayai sepenuhnya ada juga yang sebaliknya. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika perkawinan ini dilakukan, maka pasangan tersebut tidak akan harmonis, bahagia dan sejahtera. Atau selalu saja ada permasalahan pelik di dalamnya.

Untuk mengetahui latar belakang mitos ini, yuk simak penuturan sejarah singkat nya berikut ini!

 

Asal Mula Mitos Larangan Perkawinan Sunda Jawa

Menurut cerita asal mula mitos larangan perkawinan Sunda Jawa ini berawal dari perang Bubat yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Perang yang melibatkan 2 kerajaan besar di tanah Jawa ini terjadi di alun – alun Bubat Mojokerto Jawa Timur.

 

Latar Belakang Terjadinya Perang Bubat

putri_dyah_pitaloka

Perang Bubat dimulai dari rencana perkawinan politik antara Raja Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) dari Majapahit dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri raja Sunda, Prabu Linggabuana. Jauh sebelum terjadinya perang Bubat, tidak ada larangan perkawinan Sunda Jawa ini.

Hayam Wuruk, memutuskan ini (mungkin karena alasan politik) untuk mengambil putri Citra Rashmi (juga dikenal sebagai Pitaloka) sebagai istrinya.

Dia adalah putri Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dari Kerajaan Sunda yang mempunyai paras dengan kecantikan luar biasa. Majapahit mengutus Patih Madhu untuk meminangnya. Sang raja Sunda menerima pinangan itu dan ingin menjadikan kesempatan ini untuk membina aliansi dengan Majapahit. Dia pun memutuskan menemani putrinya ke Majapahit untuk prosesi pernikahannya.

 

Rombongan Keluarga Kerajaan Sunda Berangkat Menuju Majapahit

D tahun 1357 Prabu Linggabuana dan keluarga kerajaan tiba di Majapahit setelah berlayar melintasi Laut Jawa . Keluarga kerajaan menaiki kapal jung yang cukup besar dan mendarat di pelabuhan Hujung Galuh, kemudian berlayar ke daratan melalui Sungai Brantas dan tiba di pelabuhan sungai Canggu. Rombongan ini kemudian berkemah di alun-alun Bubat di bagian utara Trowulan, ibu kota Majapahit, dan menunggu upacara perkawinan Sunda Jawa ini.

 

Siasat Buruk Gajah Mada

 

gajah_mada

Gajah Mada, perdana menteri Majapahit melihat keadaan tersebut sebagai kesempatan untuk menuntut penyerahan Sunda ke kerajaan Majapahit. Sang putri harus ditampilkan sebagai tanda penyerahannya dan diperlakukan sebagai selir raja Majapahit belaka. Raja Sunda marah dan tak terima serta merasa terhina oleh permintaan Gajah Mada.  Dan pada saat itu juga memutuskan untuk pulang serta membatalkan perkawinan kerajaan Sunda dan Jawa Majapahit. Akan tetapi, Majapahit menuntut tangan putri Sunda, dan mengepung perkemahan mereka.

Namun Ada versi lain yang menyebut bahwa Gadjah Mada semula setuju dengan pernikahan tersebut sebagai upaya mempersatukan Majapahit dan Sunda. Namun Ayahanda Hayam Wuruk yaitu Kertawardhana berkebaratan dengan pernikahan tersebut. Terlebih Hayam Wuruk sudah dijodohkan dengan Indudewi yang berasal dari Daha Kediri, sehingga Kertawardhana memerintahkan Gajah Mada untuk membatalkan pernikahan tersebut.

Baca Juga : Misteri Situs Gunung Padang Cianjur

 

Terjadinya Pertempuran Bubat

perang_bubat

Akibatnya, terjadi pertempuran di alun-alun Bubat (sekarang kira-kira di dusun Bubat, Desa TempuranKecamatan SookoKabupaten Mojokerto)  antara tentara Majapahit dan keluarga kerajaan Sunda. Pertempuran ini tidak seimbang karena rombongan Sunda sebagian besar terdiri dari keluarga kerajaan, pejabat negara, dan bangsawan, disertai oleh pelayan dan pengawal kerajaan saja. Jumlah rombongan Sunda diperkirakan kurang dari seratus orang. Di sisi lain, penjaga bersenjata yang ditempatkan di ibu kota Majapahit di bawah komando Gajah Mada diperkirakan berjumlah beberapa ribu pasukan bersenjata dan terlatih. Rombongan Sunda dikepung di tengah alun-alun Bubat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa orang Sunda berhasil mempertahankan alun-alun dan menyerang balik pengepungan Majapahit beberapa kali. Namun, seiring berjalannya hari, orang Sunda kelelahan dan kewalahan. Meski menghadapi kematian tertentu, orang Sunda menunjukkan keberanian dan kesatria yang luar biasa satu per satu, semuanya jatuh.

 

Kematian Terhormat Keluarga Kerajaan Sunda

putri_dyah_pitaloka_2

Meski tidak seimbang, namun Raja Sunda berjuang mempertahankan kehormatan kerajaan sampai titik darah penghabisan. Sang raja gugur ketika duel dengan seorang jenderal Majapahit. Hampir semua keluarga kerajaan Sunda di bantai dalam tragedi itu. Ada beberapa sumber mengatakan bahwa putri Dyah Pitaloka bersama dengan semua wanita Sunda yang tersisa saat itu mengambil nyawanya sendiri untuk membela kehormatan dan martabat negaranya. Ritual bunuh diri oleh para wanita lainnya setelah kekalahan kaum laki-laki mereka. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka.

Menurut tradisi, wafatnya Dyah Pitaloka ditangisi oleh Hayam Wuruk dan seluruh penduduk kerajaan Sunda yang telah kehilangan sebagian besar anggota keluarga kerajaannya. Perbuatan Pitaloka dan keberanian ayahnya dipuja sebagai tindakan mulia kehormatan, keberanian dan martabat dalam tradisi Sunda. Ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dipuja oleh orang Sunda sebagai Prabu Wangi (Sunda: raja dengan aroma yang menyenangkan) karena tindakan heroiknya untuk mempertahankan kehormatannya melawan Majapahit. Keturunannya, yang kemudian menjadi raja Sunda, disebut Siliwangi (Sunda: penerus Wangi).

 

Akhir Karir Gajah Mada

Gajah Mada menghadapi tentangan, ketidakpercayaan dan ejekan di istana Majapahit karena tindakannya yang ceroboh, yang tidak sesuai selera para bangsawan Majapahit, telah mempermalukan martabat Majapahit, dan merusak pengaruh raja Hayam Wuruk. Peristiwa malang ini juga menandai berakhirnya karir Gajah Mada, karena tidak lama setelah peristiwa ini, raja memaksa Gajah Mada untuk pensiun dini melalui pemberian perdana menteri tanah di Madakaripura (hari ini Probolinggo), sehingga diasingkan jauh dari urusan istana ibu kota.

 

Pemutusan Hubungan Antar Kerajaan

asal_muasal_larangan_perkawinan_sunda_jawa

Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan dan mengakibatkan permusuhan selama bertahun-tahun yang akan datang, situasi tidak pernah kembali normal.[7] Pangeran Niskalawastu Kancana merupakan satu – satunya pewaris kerajaan Sunda yang masih hidup.Karena Ketika keluarganya berangkat ke Majapahit, dia tidak ikut serta karena usia nya pada saat itu masih kecil. Setelah tumbuhu besar, Niskala Wastukancana menjadi seorang raja yang sangat bijaksana.  Kebijakannya setelah naik takhta antara lain memutuskan hubungan diplomatik Sunda dengan Majapahit, memberlakukan kebijakan isolasi terhadap Majapahit, termasuk memberlakukan undang-undang “Larangan Estri ti Luaran”, yang melarang orang Sunda menikah Jawa. Reaksi-reaksi ini mencerminkan kekecewaan dan kemarahan Sunda terhadap Majapahit, dan kemudian berkontribusi pada permusuhan Sunda-Jawa, yang mungkin masih berlangsung hingga saat ini.

 

Kebenaran Sejarah Yang Sengaja Ditutup – tutupi

Kejadian perang Bubat ini seperti momok bagi pihak Majapahit. Maka dari itu tidak ada referensi pasti yang ditulis pihak Majapahit mengenai peristiwa ini. Walaupun seperti kita ketahui bahwa kitab Nagarakertagama ditulis setelah terjadinya perang ini. Akan tetapi tidak ada satupun tulisan yang menyebutkan tentang perang ini.

Disisi lain, bagi masyarakat Sunda kejadian perang Bubat ini sangat penting dan bermakna sekali. Karena seorang putri kerajaan yang memilih bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya dan kerajaannya adalah Tindakan yang sangat terhormat. Maka tak heran banyak tembang – tembang sunda atau tarian yang mengangkat tema ini.

 

Larangan Perkawinan Sunda Jawa di Era Milenial

Meskipun kejadian perang Bubat terjadi berabad – abad yang lalu, namun dampak historis dari kejadian itu masih terus melekat. Terutama di benak masyarakat Sunda. Masih banyak orang tua Sunda yang melarang anaknya berjodoh dengan orang jawa. Akan tetapi ada juga yang berpikir lebih moderat dengan mengesampingkan mitos larangan perkawinan Sunda Jawa ini. Semua Kembali kepada keyakinan masing – masing, perkara jodoh, rejeki dan kematian hanya Tuhan yang tahu.

 

Bagikan Postingan

Cerita Lainnya

Bukan Iklan Jangan di Klik