Damar Pilau Indonesia

Suku Baduy Asal Muasal & Kepercayaannya

suku-baduy-banten

 

Suku Baduy merupakan sekelompok masyarakat adat yang hidup di Kawasan hutan pedalaman di Kaki Gunung Kendeng Banten, Jawa Barat. Jumlah penduduk suku Baduy sekitar 26.000 orang, termasuk kelompok masyarakat yang sangat tertutup dari dunia luar. Masyarakat suku Baduy masih termasuk ke dalam sub-suku Sunda, yang belum terkontaminasi modernisasi dan masih memegang tradisi serta adat khas yang hampir seluruhnya tertutup dari dunia luar. Agama yang dianut oleh masyarakat suku Badui adalah Sunda Wiwitan, yang merupakan perpaduan antara Islam dan Hindu.

Apa Itu Baduy?

Nama “Baduy” adalah sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, namun menurut cerita hal ini berawal dari sebutan para ilmuwan asing yang sepertinya menyamakan mereka dengan sekelompok etnik Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden) jazirah Arab. Alasan lainnya adalah terdapat Sungai Badui dan Gunung Badui di bagian utara dari wilayah yang mereka diami. Suku Baduy sendiri lebih suka disebut sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan lain yang sesuai dengan nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

 

suku-baduy-banten

Asal Usul Suku Baduy

Ada beberapa versi cerita tentang asal – usul suku Baduy. Yang pertama menurut kepercayaan mereka, orang Baduy merupakan keturunan dari Batara Cikal. Yaitu salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi. Ada juga yang sering menghubungkan asl usul tersebut dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama.

Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten, kawasan barat pulau Jawa ini adalah bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten adalah salah satu pelabuhan dagang yang cukup besar pada waktu itu. Sungai Ciujung yang berada di wilayah Banten dapat dilayari berbagai jenis perahu, serta banyak digunakan untuk pengangkutan hasil palawija dari wilayah pedalaman. Oleh karena itu penguasa wilayah tersebut pada saat itu yaitu Pangeran Pucuk Umun, menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Maka dari itu diutuslah pasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan hutan. Kawasan hutan lebat dan berbukit itu berada di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi asal muasal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih menempati wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut.

 

Perbedaan Versi Sejarah Suku Baduy

Versi lain menyebutkan bahwa masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (Kota Bogor sekarang).

Perbedaan pendapat tersebut mengindikasikan bahwa pada masa lalu, identitas asli dan kesejarahan orang Baduy sengaja ditutup, dengan tujuan untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Namun  Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Badui adalah penduduk asli daerah tersebut yang dijadikan mandala’ (kawasan suci) secara resmi oleh raja, oleh karenanya  penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (Nenek Moyang) Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan. Maka dari itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan.

 

 

Jembatan_Akar_Baduy

Baca  Juga : Misteri Gunung Padang

 

Agama dan Kepercayaan

Kepercayaan orang Kanekes / Baduy disebut dengan ajaran Sunda Wiwitan. Merupakan ajaran leluhur turun temurun yang berlandasakan pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur serta pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). Walaupun bagian besar aspek ajaran ini adalah original tradisi turun-temurun, namun pada perkembangannya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran HinduBuddha, dan dari ajaran Islam.

Sangat Menghormati Alam

Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diimplementasikan lewat sikap menjaga dan melestarikan alam. Yaitu dengan merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya). Serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam. Hal ini ditunjukan dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta.

 

Pikukuh Suku Baduy

Inti dari kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak. Ketentuan ini  dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi yang sangat penting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin. Maka dari itulah hingga saat ini seperti tidak ada yang berubah dengan kondisi dan keberadaan masyarakat suku Baduy.

 

 

Bagikan Postingan

Cerita Lainnya

Bukan Iklan Jangan di Klik