Orangutan dan Ancaman Deforestasi Hutan

Orangutan merupakan salah satu hewan endemik Indonesia yang keberadaannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Di Indonesia terdapat 3 spesies yang habitat wilayahnya berbeda – beda. Hewan yang mempunyai kemiripan yang sangat dekat dengan manusia ini hidup diatas pepohonan (arboreal). Makanan utamanya adalah buah – buahan dan dedaunan. Sebelum lebih jauh membahas ancaman serius terhadap satwa yang satu ini, yuk kenali terlebih dahulu 3 jenisnya yang ada di Indonesia! 3 Jenis Orangutan Indonesia 1. Orangutan Kalimantan Orangutan Borneo / Kalimantan atau dalam bahasa latin nya Pongo Pygmaeus lebih banyak ditemukan di dataran rendah. Ciri khasnya adalah mempunyai gelembung suara(jakun) yang menghasilkan nada suara tinggi. Suara ini biasanya digunakan untuk memanggil kawanannya atau untuk memberitahukan keberadaan mereka. Dan juga yang jantan dewasa mempunyai pelipis seperti bantal yang khas. Orangutan Kalimantan masih banyak ditemui di area hutan bagian utara Kalimantan. Namun ada juga di beberapa hutan di wilayah lainnya. 2. Orangutan Sumatera Orangutan Sumatera (Pongo abelii) mempunyai ciri yaitu kantung pipi yang panjang pada jantan. Berbeda dengan Pongo pygmaeus, Pongo abelii lebih banyak hidup di dahan tinggi dan beralih dari satu pohon ke pohon lainnya. Panjang tubuh tidak jauh berbeda dengan spesies Kalimantan sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Yang jantan dewasa biasanya penyendiri sedangkan yang betina sering dijumpai bersama anaknya di hutan. Pongo abelii betina mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi sekitar 15 tahun. Hewan yang termasuk kedalam daftar kategori terancam punah ini masih tersebar di beberapa hutan di Pulau Sumatera. Namun lebih banyak dijumpai di hutan bagian utara Sumatera dan Aceh. 3. Orangutan Tapanuli Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) merupakan spesies baru yang ditemukan wilayah hutan Batang Tour Sumatera Utara sekitar 5 tahun yang lalu. Jenis Tapanuli ini termasuk hewan terancam punah yang jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan 2 spesies yang lain. Menurut para ahli spesies Tapanuli ini kini hanya berjumlah sekitar 700 -1000 ekor saja. Secara morfologi ciri dari orangutan ini tidak jauh berbeda dengan yang lainnya, bahkan seperti berada di tengah – tengah antara spesies Kalimantan dan Sumatera. Seperti pejantan dewasa memiliki bantalan pipi yang hampir sama dengan orangutan Borneo. Namun bentuk badan nya lebih mirip dengan Orangutan Sumatera. Ancaman Serius Deforestasi Hutan Orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh undang – undang, karena keberadaan nya yang semakin berkurang secara sangat cepat. Sppesiesini masuk kedalam satwa golongan apendix 1 menurut CITES. Yakni tidak boleh dipedagangkan dan tidak boleh diburu. Namun, karena banyaknya alih fungsi lahan hutan, primata ini banyak diburu oleh masyarakat sekitar habitat mereka tinggal karena dianggap hama yang mengganggu ladang perkebunan mereka. Tidak hanya itu, bayi nya juga banyak diperjualbelikan secara illegal dan ini adalah sebuah tindak kejahatan. Hingga kini kerusakan habitat mereka (hutan) masih mendominasi penyebab berkurangnya jumlah spesies orangutan selain perubahan iklim dan perburuan liar. Deforestasi atau berkurangnya kawasan hutan lebih banyak disebabkan oleh alih fungsi yang dilakukan masyarakat. Baik skala kecil maupun skala besar. Seperti contoh perkebunan sawit, pertambangan, pembukaan jalan, legal dan illegal logging, kebakaran hutan dan lain sebagainya. BACA JUGA: Efek Perubahan Iklim Jika hal ini diteruskan, kemungkinan besar 20-30 tahun ke depan kita tidak akan pernah bisa lagi melihat orangutan secara langsung. Dengan kata lain hewan ini akan punah dan hanya tinggal cerita saja.
Efek Perubahan Iklim Terhadap Kesehatan Manusia

Apa Itu Perubahan Iklim Perubahan iklim disebut sebagai fenomena pemanasan global, dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia. Perubahan ini mungkin bersifat alami, akan tetapi sejak abad ke 17, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama dengan pembakaran bahan bakar fosil (seperti batu bara, minyak, dan gas) yang menghasilkan gas yang mengeluarkan suhu panas tinggi. Perubahan iklim menimbul kan berbagai masalah lingkun gan. Yang saat ini sudah mulai terjadi adalah fenomena es di kutub-kutub bumi yang mulai meleleh sehingga menyebabkan permukaan air naik kemudian menyebabkan banjir. Serta cuaca ekstrim yang belakangan ini sering terjadi. Seperti, musim kemarau yang berkepanjangan, gelombang panas yang meningkatkan suhu udara secara ekstrim dan hujan lebat yang sering sekali terjadi. Kondisi-kondisi ini menimbulkan banyak sekali permasalah lingkungan yang berdampak pada kesehatan manusia. Perubahan Iklim di Indonesia Indonesia merupakan negara tropis yang mengalami 2 musim dalam setahun, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dahulu, 2 musim di Indonesia tersebut masih berlangsung normal/ teratur. Namun sekarang, siklus pergantian musim ini sudah semakin tidak beraturan.Musim hujan dan musim kemarau sudah acak – acakan. Terlebih, Indonesia yang dulu dikenal sebagai paru – paru dunia karena hutan tropis nya yang masih terjaga. Kini hutan – hutan tersebut semakin menyusut kecil karena deforestasi hutan besar – besaran. Hal ini juga sangat mempengaruhi perubahan iklim di Indonesia. Berbagai Efek Perubahan Iklim Ketika musim kemarau berkepanjangan tiba,masa ini merupakan kondisi yang sangat baik untuk perkembangan bakteri, virus, jamur dan parasit karena kelembaban udara pada musim kemarau cukup tinggi. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut tumbuh dengan sangat subur dan dapat bertahan hidup lebih lama. Hal ini merupakan salah satu pemicu penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara semakin banyak terjadi seperti berbagai penyakit kulit akibat jamur. Tidak hanya itu berbagai hewan –hewan kecil tak kasat mata mulai bertebaran sehingga mengganggu pernafasan kita. Tak hanya itu saja, perubahan iklim juga menyebabkan anomali cuaca yang semakin ekstrim dan sulit diprediksi. Di satu wilayah, bisa saja terjadi hujan terus-menerus yang disertai dengan angin kencang dan menyebabkan banjir. Sementara di wilayah lain terjadi kemarau berkepanjangan hingga mengeringkan sawah, ladang dan sumber-sumber air masyarakat. Belum lagi suhu ekstrim yang disebabkan terik matahari dapat membakar kulit. BACA JUGA: 5 Pantai Di Bali Terbaik Yang Wajib Di Kunjungi Cuaca ekstrim seperti hujan kencang yang terjadi terus-menerus akan menyebabkan banjir jika daratan tidak siap menampung limpahan air yang banyak. Kondisi banjir menyebabkan lingkungan kotor dan menjadi lingkungan yang sangat baik bagi serangga dan nyamuk penyebar penyakit untuk hidup dan bereproduksi. Dengan kondisi seperti ini, kasus penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue akan sangat banyak, sampai pada titik endemik. Sementara kondisi ekstrim lingkungan mempengaruhi daya tubuh manusia sehingga mudah lelah dan sakit. Sedangkan kemarau, akibat peningkatan suhu bumi terus-menerus dapat menyebabkan kebakaran semak dan hutan. Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan mencemari udara yang juga berdampak pada kesehatan pernapasan manusia. Dalam kondisi tersebut akan sering ditemukan kasus-kasus seperti Infeksi Pernapasan. Sedikit Berdampak Besar Untuk Lingkungan Mari Bergerak Untuk Bumi Yang Kita Pijak Kalo bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi. Mari bersama – sama bergerak mengurangi dampak perubahan iklim saat ini juga. Ada berbagai cara mudah yang bisa kita lakukan, seperti mengurangi penggunaan kantong plastik. Mengurangi penggunaan barang elektronik yang menimbulkan hawa panas. Berhemat energi dan mempilah sampah organik dan non organik, dan masih banyak lagi cara lain nya. #SAVE EARTH
